Kisah Aisyah binti Abu Bakar ash – Shiddiq

Kisah Aisyah binti Abu Bakar ash – Shiddiq

Hari-hari yang sulit dilalui Nabi ﷺ saat beliau mengantarkan kepergian istri beliau yang suci yang telah memberikan tenaga dan hartanya demi membahagiakan Rasulullah ﷺ . Khadijah binti Khuwailid, wanita yang setia dan jujur, sehingga tidak mudah bagi Rasulullah ﷺ berpisah dengan mutiara yang langka ini.

Kepedihan dan kesedihan menyelimuti hati beliau ﷺ , namun Tuhannya senantiasa melimpahkan kebaikan, menjaga, dan menolong beliau ﷺ. Maka pasukan kesedihan itu pun pergi kocar kacir ketika berita gembira datang kepada beliau.

Nabi ﷺ bermimpi dalam tidur beliau bahwa seorang wanita mencerai-beraikan kesedihan beliau untuk menggantikan posisi istri yang setia itu. Dalam mimpi tersebut, seseorang datang kepada beliau dengan membawa sehelai sutra, lalu ia mengatakan kepada beliau ﷺ,

“Ini adalah istrimu!”

Nabi ﷺ membuka sehelai sutra itu untuk melihat istri beliau yang akan datang.

Tahukah Anda siapakah sang istri itu ?

Dialah wanita yang jujur yang merupakan putri dari laki-laki yang jujur, kekasih dari
kekasih Allah yang dibebaskan Allah dari tuduhan perzinaan dari atas langit ketujuh. Demikianlah yang digambarkan Masruq ketika dia menceritakan tentang Aisyah.

Dia adalah Ummu Abdillah, at-Taimiyah, ahli fikih, Ummul Mukminin, Aisyah Dia adalah wanita mulia yang tinggal di rumah ayah yang jujur, wanita cerdas dari keluarga Abu Bakar, dan kesayangan kedua orangtuanya.

Dia dilahirkan di bawah pangkuan Islam, menyusu dari air susu hidayah, dan berpakaian dengan pakaian keimanan. Suaminya adalah Rasulullah ﷺ dan ayahnya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq.

Betapa mulianya bintang yang berada di antara matahari dan bulan !

Dia melihat cahaya Islam pada tahun keempat sejak cahaya kenabian itu terbit, lalu cahaya itu mengelilinginya dari seluruh sisi.

Betapa bahagianya sang istri tersebut ketika melihat cahaya kehidupan bersama cahaya kenabian, karena mendapatkan asupan susu dari sang ibu yang beriman lagi suci dan dipangku oleh
sang ayah yang beriman dan juga suci.

Kemudian datanglah kebahagiaannya yang terbesar, yakni saat datang berita gembira bahwa pemimpin umat manusia ﷺ akan datang untuk meminangnya. Di Madinah, yang nama lainnya adalah Thaibah atau Thabah, yang merupakan negeri hijrah, di sanalah Nabi ﷺ mengawali masa pengantin baru bersama istrinya yang cerdas, Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq.

Maka sejak itulah, Aisyah selalu berada di bawah naungan kenabian dan meminum dari mata air hidayah yang jernih tanpa ada kekeruhan sedikit pun di dalamnya.

Dialah yang menerima petunjuk dari sang pemilik petunjuk itu dan menyaksikan turunnya wahyu, pagi dan petang.

Betapa bahagianya dia! Kebaikan apakah yang diberikan kepadanya ?

Dia tinggal di rumah Nabi ﷺ, mengambil hidayah dari beliau, dan belajar melalui tangan beliau langsung.

Dia menempati tempat yang tinggi di dalam hati Nabi ﷺ di tempat yang luhur.

Dialah kekasih dari seorang kekasih Allah dan wanita yang dekat di hati orang yang dekat denganNya.

Maka dia pun merasa bangga dengan kedudukannya yang luhur dan merasa mulia di hadapan madunya.

Bagaimana bisa kedudukannya tidak semulia itu, bukankah dia adalah putri Abu Bakar ash-Shiddiq? Bukankah dia putri pemimpin para sahabat ? Bukankah dia putri dari orang kedua yang berada di da lam gua Tsur ?

Bukankah dia putri orang terbaik dari umat ini setelah Nabi Muhammad ﷺ ?

Betapa mulianya kekerabatan tersebut! la lebih indah dari pada permata dan lebih terang daripada matahari di siang hari.

Rasulullah ﷺ pernah ditanya,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُْ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: عَائِشَةُ، قِيلَ: مِنَْ الرِِّجَالِ؟ قَالَ: أَبُوهَا.

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Beliau ditanya lagi, “(Kalau) dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.”1

Betapa mulianya kalian, wahai keluarga Abu Bakar ! Kalian pergi membawa segala kebanggaan hingga kalian melampaui
bintang Kartika !

Pada hari yang lain, datang lagi kemuliaan wanita yang jujur yang merupakan putri laki-laki yang jujur ini, yakni saat malaikat pembawa wahyu, Jibril, turun untuk menyampaikan salam kepada sang wanita mulia itu. Nabi ﷺ menyampaikan salam itu seraya berkata kepadanya,

يَا عَائِشُ، هَذَا جِبْرِيلُ يُقْرِئُكَ السّلَامَ.

“Wahai Aisyah, ini Jibril menyampaikan salam untukmu!” Wanita yang cerdas ini membalas,

وَعَلَيْهِ السّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

“Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahanNya di limpahkan kepadanya.”2

Wanita yang jujur ini menyertai Rasulullah ﷺ dalam ke hidupan yang dihiasi oleh pergaulan yang jujur dan tekad seorang istri yang ikhlas.

Maka dia pun melayani segala kebutuhan Rasulullah ﷺ, seperti memasak, mencuci, menjahit, menyisir rambut beliau dan bersenda gurau. Maka tak heran bila dia menempati kedudukan yang luhur di dalam hati Nabi ﷺ. Kemudian datanglah hari perpisahan, hari di mana Nabi ﷺ meninggalkan dunia, hari yang mengguncangkan hati-hati manusia, yang tidak terguncangkan kecuali oleh berita besar itu.

Saat Rasulullah ﷺ mengalami sakit yang mengakibatkan kematian beliau, beliau ﷺ mendapati diri beliau dilingkupi oleh tangan-tangan yang ikhlas, yakni tangan-tangan istri-istri beliau.

Rasulullah ﷺ berpindah-pindah dari satu rumah istri beliau ke rumah istri beliau yang lain, namun beliau ﷺ senantiasa bertanya, ‘Di manakah besok aku berada? Di manakah besok aku berada ?” Seakan beliau menginginkan hari itu segera datang.

Tahukah Anda hari apakah itu ? Itulah hari di mana beliau ﷺ tinggal di rumah wanita yang jujur, putri dari seorang ayah yang jujur, Aisyah

Para istri Nabi ﷺ memahami apa yang beliau maksudkan, maka mereka mengizinkan beliau dirawat di rumah seorang kekasih dari kekasih Allah. Aisyah menganggap hari itu terma suk salah satu kemuliaannya yang besar.

Nabi ﷺ mendapatkan kelembutan dan kasih sayang dari istri yang ikhlas, sebagaimana beliau mendapatkan pertolongan dan pembenaran dari bapaknya Abu Bakar Ash – Shiddiq.

Saat-saat perpisahan pun datang. Saat sakit Nabi ﷺ bertambah parah, beliau mendapatkan sang istri yang jujur berada di samping beliau untuk merasakan penderitaan beliau dan menemani beliau sepanjang malam dalam meringankan penderitaan beliau. Maka pangkuannya menjadi bantal beliau dan telapak ta ngannya sebagai selimut beliau.

Akhirnya saat perpisahan itu tiba, yakni ketika Allah mengizinkan untuk mencabut ruh Nabi-Nya ﷺ.

Tahukah Anda di manakah Nabi ﷺ saat itu ?

Ya, beliau ﷺ saat itu berada di rumah Aisyah. Namun di manakah Nabi ﷺ berada saat beliau berada di rumah wanita yang cerdas ini ?

Tidakkah Anda lihat bagaimana berbaktinya Aisyah kepada Rasulullah ﷺ ?

Dia tidak rela ada tempat tidur untuk beliau ﷺ selain pangkuannya, dan dia tidak rela ada bantal untuk beliau selain dadanya. Aisyah menganggap hal tersebut juga termasuk kebanggaannya.

Kita akan bawakan untuk kita contoh lain dari sikap ber. baktinya Aisyah yang luar biasa terhadap Rasulullah ﷺ :

Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq datang ke rumah saudarinya, Aisyah, ketika Nabi ﷺ dalam keadaan seperti itu, sedang di tangan Abdurrahman ada sebuah siwak, lalu Nabi ﷺ melirik siwak itu dengan mata beliau, maka Aisyah mengambilnya dari saudaranya, Abdurrahman, lalu mengunyahnya, membersihkannya dari kotoran, dan memberinya wewangian, kemudian memberikannya kepada Nabi ﷺ, maka beliau pun bersiwak dengannya.

Setelah itu terjadilah perpisahan. Nabi ﷺ mengangkat pan dangan beliau kelangit seraya berkata,

بَلْ الرَّفِيقُ الْأَعْلَى.

“(Aku memilih) tempat para nabi yang paling tinggi.”3

Ruh Nabi ﷺ keluar, sedang kepala beliau berada diatas dada Aisyah Maka Aisyah pun merasa mendapat kemuliaan dalam peristiwa itu, dan dia senantiasa mengenangnya, dan beberapa kemuliaan lain.

Dia berkata, “Aku diberi keunggulan atas istri-istri Nabi ﷺ dengan sepuluh perkara:

1. Nabi ﷺ tidak pernah menikah dengan seorang gadis selain denganku.

2. Beliau ﷺ tidak pernah menikah dengan seorang wanita yang kedua orangtuanya pernah hijrah selain aku.

3. Allah menurunkan pernyataan kebebasanku (dari berita bohong) dari atas langit.

4. Jibril datang dengan memperlihatkan rupaku dari atas langit di dalam (balutan) kain sutra dan dia berkata, ‘Nikahilah dia karena dia adalah istrimu’.

5. Aku pernah mandi bersama Nabi ﷺ dalam satu bejana dan itu tak pernah beliau lakukan dengan seorang pun dari istri-istri beliau selain denganku.

6. Nabi ﷺ pernah shalat, sedang aku tidur melintang di hadapan beliau dan itu tidak pernah dilakukan beliau bersama seorang pun dari istri-istrinya selainku.

7. Pernah wahyu turun kepada beliau ﷺ saat beliau bersamaku dan peristiwa turunnya wahyu kepada beliau tidak per nah terjadi saat beliau bersama salah seorang istri beliau selainku.

8. Allah mencabut ruh beliau ﷺ saat beliau berada di antara paru paru dan leherku.

9. Nabi ﷺ meninggal pada malam giliranku. dan

10. Beliau ﷺ dimakamkan di rumahku.”

Begitulah wanita yang suci itu menjalani indahnya hari hari yang dilaluinya bersama Rasulullah ﷺ dengan kesetiaan, ke jujuran dan keikhlasan.

Pada saat Nabi ﷺ dicabut ruhnya, Aisyah termasuk istri yang paling beliau cintai, paling dekat di hati beliau, dan paling tinggi kedudukannya pada pohon yang tinggi tersebut, yaitu pohon kenabian, sehingga dia mewarisi dari Nabi ﷺ ilmu, hikmah, ibadah, zuhud, dan cinta kepada keutamaan.

Itulah rumah kenabian di mana Aisyah tinggal di dalamnya sebagai seorang murid dari pemimpin seluruh manusia.

Perkirakanlah tentang seorang wanita yang mendapat pendidikan seperti itu, akan menjadi bagaimanakah dia di masa depan.

Wanita jujur itu menjadi seorang wanita mulia yang di dalam dirinya menyatu sifat-sifat mulia di mana sifat-sifat tersebut tercerai berai pada wanita-wanita selainnya.

Betapa mulianya tanaman yang ditanam oleh Abu Bakar ash-Shiddiq dan dirawat serta dipelihara oleh Rasulullah ﷺ !

Ya, wanita yang cerdas itu telah kehilangan suami terbaik, namun dia terhibur oleh cahaya yang dia petik dari Rasulullah ﷺ berupa ilmu, petunjuk, dan jalan kenabian.

Betapa mulia warisan yang dia peroleh itu!

Selain itu, kehidupan begitu lambat bagi wanita mulia ini, seakan dia tak mengenal kehidupan tersebut.

Dia sering melantunkan mengenal kehidupan tersebut,

ذَهَبَ الَّذِينَ يُعَاشُ فِي أَكْنَافِهِمْ * وَبَقِيتُْ فِي خَلْفٍ كَجِلْدِ الْأَجْرَبِ

Orang-orang yang diriku berada dalam naungannya itu telah pergi.Dan tinggallah aku di tengah generasi berikutnya, ibarat kulit yang berkudis.

Wanita mulia itu telah terbiasa dengan rumah kenabian, sehingga dia merasa hampa dalam setiap kehidupan yang tidak menjadi baik dengan munculnya pemimpin manusia ﷺ.

Para sahabat mengetahui kedudukan Aisyah yang luhur di hati Rasulullah ﷺ sehingga dia menempati kedudukan yang luhur pula di hati mereka.

Ketika kaum Muslimin menguasai perbendaharaan Persia dan Romawi, dan harta benda mengalir datang ke Madinah, kota Rasulullah ﷺ, maka pada saat itu Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab menetapkan bagian dari harta itu untuk anak kecil dan orang dewasa. Para Ummahatul Mukminin (istri-istri Rasulullah ﷺ) juga mendapatkan bagian dari harta itu.

Umar menetapkan bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan sepuluh ribu dirham, akan tetapi dia mengkhususkan Aisyah ash-Shiddiqah dengan menambahkan untuknya dua ribu, lalu Umar berkata, “Dia adalah kekasih Rasulullah ﷺ.”

Begitulah Aisyah diagungkan dan dimuliakan,keutamaannya diketahui oleh para tokoh dari para sahabat Rasulullah ﷺ dan yang lainnya.

Rumah suci di mana wanita yang suci ini tinggal di dalamnya menjadi tempat tujuan orang-orang yang ingin bertanya tentang warisan Nabi ﷺ (yakni, ilmu), karena pemiliknya termasuk wanita yang paling berilmu.

Tidaklah salah az-Zuhri ketika dia berkata, “Seandainya ilmu Aisyah disatukan dengan ilmu seluruh istri Nabi ﷺ dan ilmu seluruh wanita, maka ilmu Aisyah lebih utama.” Aisyah benar-benar wanita berilmu yang langka yang menyatukan antara ilmu dan amal.

Para tokoh sahabat bila menghadapi suatu masalah, niscaya mereka mengetuk pintu rumah yang di baliknya duduk seorang wanita pewaris ilmu Nabi ﷺ (untuk meminta fatwa kepadanya).

Masruq pernah ditanya, “Apakah Aisyah menguasai Faraidh (ilmu tentang pembagian warisan)?” Beliau ﷺ menjawab, “Ya, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh aku telah menyaksikan para sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang utama menanyakan kepadanya tentang Fara`idh.”

Renungkanlah ucapan Abu Musa al-Asy’ari, “Tidaklah suatu perkara yang pelik menimpa kami, para sahabat Nabi ﷺ, lalu kami menanyakannya kepada Aisyah, melainkan kami mendapatkan ilmu (jawaban) tentang hal itu di sisinya.”

Begitulah keadaan ash-Shiddiqah, Aisyah, seorang guru yang istimewa yang menjadi tempat tujuan orang kecil dan para tokoh.

Sungguh benar, Aisyah adalah contoh yang langka bagi para wanita yang mana zaman tak dapat lagi melahirkan orang orang seperti mereka.

Dialah orang yang mengerti tentang ilmu, pengajaran, pengamalan dan pendidikan.

Dia seorang wanita yang fasih dalam bertutur kata dan menyukai kefasihan berbahasa serta kedalaman berbicara.

Mu’awiyah datang kepada Aisyah lalu berbicara ke padanya. Ketika Mu’awiyah berdiri, dia bersandar ke tangan pembantu Aisyah, Dzakwan, lalu dia berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah mendengar seseorang yang lebih fasih dalam berbicara dibandingkan Aisyah, kecuali Rasulullah ﷺ.”

Begitulah sosok wanita mulia yang berada di rumah yang suci ini. Dia tidak sekedar mewarisi petunjuk kenabian, tapi juga mewarisi kefasihan berbicara dan berbagai mutiara hikmah.

Harta pusaka lain yang dimiliki oleh wanita yang mulia ini,  seorang ibu yang mendidik dan pengajar yang memberi nasihat.

Betapa banyak Sunnah Nabi ﷺ yang dia ajarkan dan betapa banyak ilmu yang dia sebarkan.

Banyak kaum wanita yang datang kepadanya secara berkelompok maupun sendiri-sendiri untuk belajar agama kepadanya.

Dia adalah seorang guru yang terbaik, dia tidak pelit untuk memberikan ilmu, nasihat, dan pendidikan kepada mereka, sehingga dari hasil didikannya, keluarlah wanita-wanita cerdas yang terkenal.

Para murid wanita itu menjadi seperti gurunya yang jujur dalam ilmu, hikmah, dan nasihatnya.

Di antara wanita-wanita cerdas yang merupakan hasil didikannya adalah Amrah binti Abdurrahman, Aisyah binti Thalhah, dan Hafshah binti Sirin,

Mereka adalah para wanita yang dikenal dalam hal ke ilmuan dan keutamaannya, sehingga terbukti bahwa pendidikan yang diberikan oleh wanita yang mulia ini terhadap mereka tidak gagal.

Sungguh benar, Aisyah adalah seorang guru yang sukses lagi jujur, yang sudah sepantasnya bagi setiap wanita untuk
meneladani sifat-sifatnya dan mengikuti jalannya.

Sadarlah wahai saudariku, itulah wanita dari jenismu sendiri, lalu di manakah posisimu dari kemuliaan itu ?

Nasihatilah dirimu dan pukulah kelemahan dengan telapak tangan kekuatan tekad, maka engkau akan beruntung dengan izin Allah .

Aisyah adalah seorang yang paham tentang agama, seorang yang wara’, dan seorang yang menjaga batasan-batasan
Allah.

Suatu hari, Ishaq yang buta mendatangi Aisyah, lalu dia menutup dirinya dari Ishaq sehingga dia berkata, “Mengapa engkau menutup dirimu dariku padahal aku ini buta ?” Dia menjawab, “Benar kamu tak melihatku, tapi aku melihatmu.”

Betapa agungnya engkau, wahai putri Abu Bakar ash Shiddiq ! Engkau seorang yang wara’, fakih, dan pendidik.

Kata-kata yang diucapkannya itu menggambarkan kefakihan wanita yang cerdas ini dan sikap wara’nya yang tinggi,

Alangkah mulianya perempuan yang telah melahirkanmu, wahai putri Abu Bakar ash-Shiddiq! Adakah kemuliaan yang lebih tinggi daripada hal itu ?

Wahai wanita yang jujur, engkau masih tetap menyerap cahaya kenabian dan meletakkan langkahmu di atas langkah suamimu, Rasul pembawa petunjuk.

Tekadmu yang kuat tak dapat dilemahkan oleh perjalanan waktu, dan cita-citamu yang luhur tak dapat dihentikan oleh perubahan zaman.

Wanita yang terpelihara ini bukan hanya seorang pemimpin kaum wanita di dalam ilmu saja, tetapi dia adalah seorang alim, ahli ibadah, seorang yang zuhud dan seorang yang komitmen dalam mengamalkan ilmunya.

Sungguh, Aisyah adalah seorang ahli ibadah yang mengetahui nikmatnya beribadah. Dia seorang yang senantiasa berpuasa dan sering kehausan di hari yang sangat terik.

Bila dia shalat dan menghadap kepada Tuhannya, maka dia shalat dalam keadaan khusyu’, merenungkan bacaan shalat nya dan menangis.

Adapun kezuhudannya, maka Aisyah memang seorang wanita ahli zuhud yang berpaling dari keindahan dunia. Benarlah apa yang dikatakan Abu Nu’aim, penulis kitab Hilyah al-Auliya ketika dia menggambarkan wanita yang mulia ini.

“Terhadap dunia, Aisyah meninggalkannya, terhadap kesenangannya, dia melalaikannya dan atas kehilangan orang yang menyenanginya, dia menangis.”

Aisyah berkata tentang dirinya,

مَا شَبِعْتُ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ مِنْ طَعَامٍ إِلَّا وَلَوْ شِئْتَ أَنْ أَبْكِيَ لَبَكَيْتُ، مَا شَبِعَ آلَ مُحَمَّدٍ ﷺ حَتَّى قُبِضَ.

“Aku tidak pernah kenyang karena memakan suatu makanan setelah wafatnya Nabi ﷺ, kecuali seandainya aku ingin menangis, niscaya aku benar-benar menangis; keluarga Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah makan sampai kenyang hingga beliau diwafatkan.”4

Anak saudara perempuannya, Urwah, berkata, “Aku melihatnya bersedekah sebanyak 70.000 dirham dan dia menambal bagian samping baju perangnya.”

Pada suatu hari, Aisyah mendapatkan pemberian beberapa keranjang berisi anggur, lalu dia membagi-bagikannya. Budak wanitanya menyimpan salah satu keranjang itu, sementara Aisyah tidak mengetahuinya, lalu ketika di malam hari, budak itu datang dengan membawanya, maka Aisyah bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Wahai majikanku-atau wahai Ummul Mukminin-, ini sengaja aku simpan untuk kita makan.” Dia berkata, “Tidak satu tangkai pun, demi Allah, aku tidak akan memakan sedikit pun darinya.”

Sungguh benar, Aisyah pantas mendapatkan kedudukan yang tinggi di dalam hati Rasulullah ﷺ.

Dia mewarisi sifat-sifat mulia itu dari para leluhurnya. Suaminya adalah Rasulullah ﷺ dan ayahnya adalah Abu Bakar ash Shiddiq. Maka tak heran bila dia menjadi seorang ahli ibadah dan orang yang hidup zuhud di dunia.

Bila Anda ingin bertanya tentang beberapa keutamaannya, adakah keutamaan lain yang menakjubkan dari diri wanita yang terpelihara ini yang ingin dia berikan kepada kita? Maka kami katakan, “Bersiaplah untuk mendengarkannya!”

Sungguh wanita mulia ini sangat menakjubkan dalam kemuliaan, kedermawanan, dan kebesaran jiwanya.

Ummu Dzarrah menceritakan kepada kita, dia berkata, “Aisyah mendapat kiriman harta sebanyak dua karung. Saya perkirakan isinya sebanyak 80.000 atau 100.000 dirham, lalu dia meminta sebuah mangkuk besar, sedangkan dia saat itu tengah berpuasa, lalu dia duduk dan membagi-bagikan harta itu kepada orang-orang, maka ketika sore hari dia tak memiliki satu dirham pun dari harta itu, lalu sore harinya, dia berkata, ‘Kemarilah wahai budak wanitaku, bawakan makanan untuk buka puasaku !’

Maka dia pun membawakan roti dan minyak.” Ummu Dzarrah berkata kepadanya, “Dari harta yang kamu bagi-bagikan pada hari ini tidakkah kamu bisa membeli daging seharga satu dirham untuk kita berbuka?” Dia berkata, “Jangan marah kepadaku, seandainya kamu tadi mengingatkanku, tentu aku akan melakukannya.”

Mu’awiyah pernah memberinya kalung senilai 100.000 dirham, lalu dia membagi-bagikannya kepada istri-istri Nabi ﷺ yang lain.

Begitulah Aisyah, wanita jujur yang kemuliaan selalu melekat pada dirinya.

Kemuliaannya tidak terletak pada harta yang banyak dan keturunan yang dia banggakan, tapi terletak pada sifat-sifat yang menakjubkan itu; ilmu, ibadah, zuhud, wara’, dermawan, dan sifat-sifat mulia lainnya yang akan tetap dikenang.

Aisyah adalah seorang wanita yang tidak suka dipuji oleh siapa pun, bahkan dia melihat dirinya sebagai orang yang lalai.

Begitulah keadaan orang-orang yang shalih dan akhlak kaum salaf yang suci; mereka tidak tertipu dengan amal shalihnya dan senantiasa menganggap dirinya penuh dengan kelalaian.

Maka Allah pun mengangkat nama mereka dan meninggikan kehormatan mereka. Di atas jalan inilah ash-Shiddiqah Aisyah menjalani hidupnya.

Ibnu Abbas menjenguknya saat dia sakit. Ketika dia meminta izin untuk masuk, Aisyah takut dia memujinya, maka dia berkata kepada keponakannya, “Aku tidak membutuhkan pujiannya!”

Keponakannya berkata, “Wahai ibu, sesungguhnya Ibnu Abbas adalah salah seorang dari anak-anakmu yang shalih, dia ingin memberi salam dan mengucapkan perpisahan kepadamu.” Dia berkata, “Berilah dia izin bila engkau mau.”

Maka Ibnu Abbas pun masuk, dan setelah memberi salam lalu duduk, dia berkata, “Berbahagialah engkau.” Dia bertanya, “Karena apa?” Dia berkata, “Tidak ada jarak antara dirimu dan pertemuanmu dengan Nabi Muhammad ﷺ serta orang-orang yang engkau cintai kecuali keluarnya ruh dari jasad.

Dahulu engkau adalah istri Rasulullah ﷺ yang paling dicintai oleh be liau dan Rasulullah ﷺ itu tidak pernah menyukai kecuali sesuatu yang baik.

Kalungmu pernah jatuh pada suatu malam di daerah al-Abwa, lalu Rasulullah ﷺ mencarinya pada waktu Shubuh di tempat persinggahan, pada waktu Shubuh itu orang-orang tidak memiliki air, lalu Allah menurunkan ayat,

فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا

“Maka bertayamumlah kalian dengan debu yang baik (suci). (An Nisa: 43 dan al-Ma’idah: 6).

Itu terjadi disebabkan olehmu dan kemudahan beribadah yang Allah berikan kepada umat ini. Allah menurunkan (ayat al Qur’an tentang) pembebasanmu dari berita bohong dari atas langit ketujuh yang dibawa oleh Malaikat Jibril, sehingga tidak ada satu pun masjid di mana Nama Allah disebut, melainkan ayat itu dibaca siang dan malam.”

Aisyah berkata, “Wahai Ibnu Abbas, tinggalkanlah aku, demi Allah yang jiwaku berada di TanganNya, aku berharap aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan!” Begitulah jawaban wanita yang shalihah ini yang tidak tertipu dengan banyaknya amal-amal shalih dan tidak membiarkan dirinya larut dalam angan-angan.

Semua yang dikatakan Ibnu Abbas adalah benar, tapi wanita yang mulia itu memiliki cita-cita yang luhur, sehingga dia memandang jauh ke depan.

Betapa agungnya engkau wahai kekasih Rasulullah ﷺ. Tidak ada para wanita sejati kecuali sepertimu.

Pada tahun 58 H, pada malam 17 Ramadhan setelah Shalat Witir, wafatlah seorang ulama wanita yang jujur ini, yang suci, hidup zuhud di dunia, kekasih Rasulullah ﷺ, Ummul Mukminin, Aisyah, putri Abu Bakar ash-Shiddiq.

Kesedihan dan tangisan menyelimuti kota Rasulullah ﷺ, hati orang-orang mengungkapkan dukanya, dan sanubari hancur karena bersedih. Hari itu adalah hari yang amat berat bagi penduduk Madi
nah, mereka tak kuasa menahan kesabarannya.

Wasiat Aisyah ash-Shiddiqah adalah agar dia dimakamkan pada malam kematiannya. Maka pemakaman Baqi’ pun di penuhi oleh manusia yang datang dari seluruh penjuru. Para penduduk dataran tinggi turun berdatangan ke kota Madinah; semuanya ingin mengantar kepergian wanita yang suci ini, yang menghabiskan usianya untuk mengajarkan mereka ilmu yang ber manfaat dan memberikan mereka warisan Rasulullah ﷺ.

Sungguh kepergian Aisyah memberikan luka yang mendalam bagi penduduk kota Madinah, dan tidak hanya bagi warga kota Madinah semata, bahkan bagi seluruh kaum Muslimin di seluruh tempat.

Kuburan Baqi’ penuh dengan manusia yang berdesakan; se muanya ingin termasuk orang yang mengiringi wanita yang suci ini, penghuni kubur ini, yang merupakan ibu bagi mereka semua

Shalat jenazah untuk wanita yang jujur ini diimami oleh Abu Hurairah, dan selanjutnya keranda yang berisi manusia pembawa ilmu, ketakwaan, kejujuran, dan kebersihan iman ini di angkat dan dimasukkan ke kuburnya oleh lima orang terkemuka dari keluarga Abu Bakar, yaitu; Abdullah bin az-Zubair, al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Bakar, Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar, dan Urwah bin az-Zubair.

Kemudian diratakanlah tanah ke dalam kubur yang dihuni oleh seorang wanita yang tidak sama dengan semua wanita, se orang istri yang tidak sama dengan semua istri, seorang ibu yang tidak sama dengan semua ibu, seorang guru yang tidak sama dengan semua guru, dan seorang penasihat yang tidak sama dengan semua penasihat.

Dialah Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq. Dia adalah teladan bagi setiap guru yang sukses, panutan bagi setiap da’i yang mulia, dan tujuan bagi setiap istri yang jujur.

Semoga Allah meridhainya di antara orang-orang yang beruntung, dan berbahagialah dia menjadi teman Rasulullah, pemimpin seluruh Rasul ﷺ.

wallahu a’lam

Diriwayatkan oleh :

1.Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 101, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, 1/52. Ed. T

2.Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3768.

3.Diriwayatkan oleh Ahmad, no, 25815

4.Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya, 2/46. Ed. T. 

Dikutip dari buku Nisa’ Lahunna Mawaqif (Kisah para Wanita Mulia) , Penulis Azhari Ahmad Mahmud, Penerjemah Abdillah, Lc.

Kisah-kisah Lain



Diterbitkan

dalam

,

oleh

error: Content is protected !! Sorry nih, Gak bisa di copas