Kisah Ayahanda Rasulullah, Abdullah

Kisah Ayahanda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Gambar : Illustrasi

Ibunya bernama Aminah binti Amr, bin Aidz, bin Imran, bin Makhzum, bin Yaqzhah, bin Murrah.

Abdullah adalah putra Abdul Muththalib yang paling rupawan, saleh, dan paling dicintai ayahnya. Abdullah inilah yang nyaris hendak dikurbankan untuk memenuhi nazar Abdul Muththalib jika ia memiliki sepuluh anak lelaki.

Alkisah, ketika anak lelakinya genap sepuluh orang, Abdul Muththalib menyampaikan kepada orang-orang Quraisy bahwa dia pernah bernazar untuk mengurbankan salah satunya. Ada yang mengatakan bahwa Abdul Muththalib mengundi kesepuluh anaknya, dan ternyata undian jatuh kepada Abdullah.

Padahal, dia adalah anak yang paling dia cintai. Lalu Abdul Muththalib berdoa, “Ya Allah, dia ataukah 100 ekor unta yang saya sembelih.” Lalu dia mengundi kagi. Ternyata undiannya jatuh kepada 100 ekor untanya. 

Sejarawan lain meriwayatkan bahwa Abdul Muththalib menulis nama anak-anaknya di batang panah, Sewaktu diundi, yang keluar adalah nama Abdullah. Maka dia membimbing Abdullah menuju Ka’bah sambil membawa sebilah parang untuk menyembelihnya. Orang-orang Quraisy yang melihatnya berusaha mencegah. Lebih-lebih paman-pamannya dari Bani Makhzum dan saudaranya, Abu Thalib. Abdul Muththalib bertanya, “Lalu bagaimana dengan nazarku?” Mereka menyarankannya untuk minta pertimbangan dari orang bijak. Orang bijak yang dimaksud tadi memberi saran agar nama Abdullah diundi bersama sepuluh ekor unta. Jika nama Abdullah yang keluar, undian diulang dengan menambahkan sepuluh unta lagi, dan seterusnya hingga Tuhan meridhainya. Jika yang keluar dalam undian adalah untanya, barulah dia boleh menyembelihnya. Maka Abdul Muththalib pulang dan mengundi Abdullah dan sepuluh ekor unta. Ternyata undian jatuh pada Abdullah. Maka dia tambahkan sepuluh ekor unta. Ternyata undian tetap jatuh pada nama Abdullah, Sewaktu unta yang dipertaruhkan mencapai seratus ekor barulah undian jatuh kepada unta. Segera saja dia sembelih unta-unta itu lalu ditinggalkannya begitu saja. Tidak ada orang atau hewan yang mendatanginya.

Bila terjadi pembunuhan di antara suku Quraisy, tradisi yang berlaku adalah satu nyawa ditebus dengan sepuluh ekor unta. Sejak saat itu, aturannya berubah menjadi seratus ekor unta perkepala.

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda, “Aku adalah anak dari dua kurban.” Yang beliau maksud adalah Ismail ‘alaihis salam dan ayahanda beliau, Abdullah. 

Untuk Abdullah, Abdul Muththalib memilihkan seorang istri bernama Aminah binti Wahab, bin Abdu Manaf, bin Zuhrah, bin Kilab. Dia dikenal sebagai perempuan dengan nasab dan martabat paling mulia di tengah-tengah suku Quraisy. Ayahnya adalah pemuka Bani Zuhrah. Pernikahan Abdullah dilaksanakan di Mekah.

Dalam suatu Riwayat, tidak lama setelah itu Abdul Muththalib mengutusnya ke Madinah untuk memanen kurma, tetapi belakangan dia meninggal di sana.

Namun, dalam Riwayat lain mengatakan bahwa awalnya Abdullah berniaga ke Syam dan bertemu dengan kafilah dagang Quraisy lalu singgahlah ia di Madinah. Di kota ini ia jatuh sakit sampai meninggal. Jasadnya dimakamkan di Darun Nabighah al-Ja’di. Usianya saat itu baru 25 tahun. Dia meninggal sebelum Muhammad dilahirkan. Versi inilah yang paling banyak diyakini oleh para sejarawan. Versi lain mengatakan bahwa dia meninggal dua bulan atau lebih setelah Muhammad lahir. 
Abdullah wafat dengan meninggalkan lima ekor unta beberapa kambing, dan seorang budak perempuan Habasyah bernama Barakah. Perempuan yang biasa dipanggil Ummu Aiman inilah yang mengasuh Rasulullah ﷺ . Dari berbagai sumber, wallahu a’lam

Kisah-kisah Lain


Diterbitkan

dalam

,

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !! Sorry nih, Gak bisa di copas