MIMPI NABI

MIMPI NABI

Dari  sebuah buku  61 Kisah Pengantar Tidur, yang Penulisnya adalah  Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, 2018, diceritakan bahwa dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“Di antara pertanyaan Nabi yang sering dilontarkan kepada para sahabat adalah, ‘Apakah salah seorang di antara kamu melihat sesuatu di dalam mimpi? Maka siapa yang bermimpi yang dikehendaki Allah akan segera menceritakan mimpinya itu kepada beliau.

Pada suatu pagi beliau bersabda, Tadi malam, aku mimpi didatangi dua orang laki-laki, lalu keduanya memegang tanganku, keduanya berkata, “Terus maju! Aku pun maju bersama keduanya. Tiba-tiba kami mendatangi seorang lelaki yang tidur berbaring dan seorang lagi berdiri dengan memegang sebuah batu, dia bermaksud melemparkan batu tersebut ke kepala orang yang tidur berbaring, lalu kepalanya pecah dan batu itupun terpelanting. Si laki-laki itu pergi mengambil batunya, tetapi belum sempat ia kembali ke tempatnya semula, kepala yang pecah tadi telah kembali seperti biasa. Kemudian ia mengulangi terus menerus perbuatannya sebagaimana yang pertama dilakukan.

Aku bertanya kepada kedua orang tadi, ‘Subhanallah, apa yang terjadi antara kedua orang ini?’ Kedua orang itu menjawab, Sudahlah, teruskan saja perjalananmu.

Lalu kami meneruskan perjalanan kami. Kami tiba di hadapan orang yang tidur terlentang dan yang seorang lagi berdiri. Sementara di tangannya terdapat belenggu besi, ia membelah wajahnya, kemudian memotong-motong pipinya hingga tengkuknya, dan dari hidungnya hingga tengkuknya, serta dari matanya sampai tengkuknya’.”

Samurah berkata, “Sepertinya Abu Raja berkata, ‘Kemudian dia membelah. Dan dia berpidah ke sebelah pipinya yang lain dan melakukan sebagaimana yang dia lakukan pertama kali. Belum lagi ia mengulangi perbuatannya wajah yang sebelah itu telah kembali seperti biasa. Kemudian dia terus mengulangi perbuatan ini sebagaimana yang dilakukan pertama kali.

Aku bertanya, ‘Subhanallah! apa yang dilakukan kedua orang ini?’ Keduanya menjawab, ‘Teruslah berjalan, teruslah berjalan!’

Kami terus berjalan dan bertemu dengan sebuah lobang semacam tungku’.” Samurah berkata, “Menurutku beliau bersabda, “Tiba-tiba dari dalam tungku itu terdengar teriakan dan kegaduhan. Kemudian kami menengok ke dalamnya. Ternyata berkumpul beberapa kaum lelaki dan wanita telanjang. Dan tiba-tiba dari bawahnya muncul api yang menyala-nyala. Ketika api melalap mereka, mereka berteriak histeris.

Aku bertanya, ‘Siapa pula mereka ini?’ Keduanya menjawab,

‘Teruskan berjalan, teruskan berjalan!’

Kami berjalan terus, hingga sampai ke sebuah sungai. Air sungai itu berwarna merah seperti darah. Di tengah sungai itu ada seorang laki-laki yang sedang berenang. Sedang di pinggirnya ada pula seorang laki-laki yang mengumpulkan batu. Apabila orang yang berenang di dalam sungai hendak keluar, mulutnya dihantam dengan batu oleh orang yang di pinggir sungai, kemudian ia kembali berenang. Lalu ia berusaha lagi berenang ke tepi sungai. Demikianlah seterusnya. Setiap kali orang yang berenang di dalam sungai hendak keluar, mulutnya dihantam batu dan ia kembali ke tempatnya semula.

Aku bertanya, ‘Siapa mereka ini?’ Keduanya menjawab, ‘Teruslah berjalan, teruslah berjalan!’

Kami melanjutkan perjalanan hingga sampai pada lelaki yang sangat menyeramkan, tidak enak dipandang. Lebih menyeramkan dari apa yang pernah engkau lihat. Disisinya ada api yang senantiasa ia jaga dan ia kelilingi. Aku bertanya, ‘Siapakah lelaki ini?’ Keduanya menjawab, Teruslah berjalan, teruslah berjalan!’

Kami melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah kebun yang menghijau dipenuhi tanaman musim semi. Di depan kebun itu terdapat seorang lelaki tinggi, saya hampir tidak bisa melihat kepalanya karena tingginya yang selangit itu. Lelaki tersebut dikelilingi sejumlah anak-anak yang saya juga belum pernah melihatnya.

Aku bertanya, ‘Siapakah lelaki itu, dan siapa pula anak-anak kecil itu?’ Keduanya menjawab, Teruslah berjalan, teruslah berjalan!’

Kami meneruskan perjalanan hingga kami sampai di sebuah kebun yang sangat luas dan indah, yang aku belum pernah melihat kebun yang lebih luas dan lebih indah dari kebun tersebut. Kedua orang itu berkata kepadaku, ‘Masuklah!’ Kami masuk ke dalamnya. Kami sampai di sebuah kota yang dibangun dari batu bata emas dan perak. Kami mendatangi pintu gerbang kota itu dan minta supaya dibukakan. Lalu pintu gerbang itupun dibuka dan kami masuk ke dalamnya. Kami bertemu dengan sekelompok kaum lelaki sebelah wajahnya sangat tampan rupawan, sementara sebelahnya lagi sangat buruk menakutkan.

Kedua orang itu berkata, ‘Pergilah kalian menuju sungai itu.’ Kami mendapati sebuah sungai yang terbentang, airnya mengalir putih benar-benar putih jernih. Mereka pergi dan menceburkan diri di sungai tersebut, kemudian mereka kembali lagi ke tempat kami. Buruk rupa yang ada pada mereka telah lenyap. Kini mereka tampan rupawan. Kedua orang itu berkata, ‘Ini adalah surga ‘Adn, dan itu tempat tinggalmu. Kemudian pandanganku tertuju pada tingkat yang lebih tinggi, aku melihat istana seperti istana raja yang putih bersih. Kedua orang itu berkata, Itulah tempat tinggalmu.’

Aku berkata kepada kedua orang tersebut, “Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian berdua, biarkan aku akan masuk ke istana itu. Kedua orang itu menjawab, Kalau sekarang kamu belum boleh masuk ke dalamnya.’

‘Sejak tadi malam yang aku saksikan adalah hal-hal yang sangat aneh, sebenarnya apa yang telah saya lihat itu? Kedua orang itu menjawab, ‘Sekarang kami akan memberitahukan ke padamu.

Lelaki yang pertama kali kamu lihat yakni yang dilempari batu hingga pecah adalah orang yang belajar al-Qur’an tapi kemudian menyampakkannya, bahkan dia sering tidur dan meninggalkan shalat wajib.

Orang lelaki yang kamu lihat dirobek-robek pipi hingga tengkuknya, telinga hingga tengkuknya dan mata hingga tengkuknya adalah orang yang senantiasa pergi pagi, kemudian menyebarkan berita bohong lantas kebohongan itu tersiar di mana-mana.

Kaum lelaki dan perempuan telanjang yang berada dalam bangunan seperti tungku, mereka adalah para pezina.

Adapun lelaki yang sedang berenang dan menelan batu itu, dialah pemakan riba. Sementara lelaki menyeramkan yang mempunyai api dan senantiasa menjaganya dan mengelilinginya adalah malaikat Malik, penjaga neraka.

Orang lelaki yang tinggi dan berada di tengah-tengah kebun adalah Ibrahim alaihissalam. Sedangkan anak-anak kecil yang mengelilinginya adalah anak-anak kecil yang mati dalam keadaan fitrah”.

Sebagian kaum Muslimin bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana dengan anak-anak yang mati sementara orang tuanya musyrik?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Demikian juga mereka, sekalipun anak orang musyrik.’

Sedangkan sekelompok orang yang sebelah wajahnya rupawan dan sebelahnya lagi buruk adalah mereka yang biasa mencampuradukkan antara amal baik dan buruk. Kemudian Allah Mengampuni mereka.”1

1  HR. Bukhari, no. 7047.

Kisah-kisah Lain



Diterbitkan

dalam

,

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !! Sorry nih, Gak bisa di copas