Gizi-gizi yang dibutuhkan untuk menghidupkan Hati kita yang sedang “Mati”

Gizi-gizi yang dibutuhkan untuk menghidupkan Hati kita yang sedang “Mati”

Perlu diketahui, ketaatan merupakan kebutuhan pokok hati seorang hamba. Permisalannya laksana kebutuhan makan dan minum bagi tubuh. Adapun kemaksiatan laksana makanan beracun yang pasti merusak hati. Di sini, seorang hamba membutuhkan ibadah kepada Allah dan pertolongan-Nya.

Umumnya manusia memperhatikan tubuhnya dengan mengonsumsi makanan-makanan bergizi secara kontinyu. Ketika tak sengaja mengonsumsi makanan beracun, ia segera mengeluarkan racun itu dari tubuh.

Demikian pula dengan hati. Kehidupan hati harus lebih diperhatikan daripada tubuh. Apabila tubuh yang sehat membuat seseorang hidup tanpa dipersulit penyakit, hati yang sehat membuatnya bisa menjalani kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan tanpa batas di akhirat. Begitu juga, jika kematian tubuh memutus seseorang dari kehidupan dunia, kematian hati bisa menyisakan duka derita nan abadi.

Seorang saleh berkata, “Aneh sekali! Manusia menangisi orang yang mati jasadnya, namun tidak menangisi orang yang mati hatinya. Padahal keadaan ini lebih parah.”

Untuk itu, seluruh ketaatan merupakan kebutuhan bagi kehidupan hati, khususnya zikir kepada-Nya, membaca Al Qur’an, istighfar, doa, shalawat kepada Nabi ﷺ, dan qiyamul lail, ketaatan-ketaatan seperti ini sangat penting dan diperlukan hati.

 Dzikrullah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyampaikan pentingnya zikir bagi hati berikut, “Zikir bagi hati laksana air bagi ikan. Apa jadinya bila ikan dikeluarkan dari air?”

Dalam kitab Al-Wabilush Shaib, Ibnul Qayyim menyebut sekitar 80 manfaat zikir. Berikut akan kami nukil sebagian di antaranya. Tapi, kami menyarankan untuk merujuk buku yang dimaksud mengingat manfaatnya yang besar. Di antara faedah yang beliau sebutkan adalah:

1. Zikir adalah makanan pokok bagi hati dan ruhani. Hati dan ruhani yang tidak mendapatkan hidangan ini sama seperti tubuh yang tidak mendapatkan asupan makanan.

2. Zikir dapat mengusir, mengekang, dan mengalahkan setan.

3. Zikir dapat mendatangkan ridha Allah.

4. Zikir bisa menghilangkan duka cita dan kesedihan dari hati, mendatangkan kebahagiaan, kesenangan, dan kelapangan.

5. Zikir dapat menyinari hati dan wajah, memberikan wibawa. kenikmatan, dan keceriaan bagi orang yang melakukan. nya.

6. Zikir bisa mewujudkan rasa cinta kepada Allah, kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya. ketakwaan

7. Allah juga akan mengingat hamba yang mengingat-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)

Andai tidak ada manfaat lain dari zikir selain hanya yang disebut dalam firman di atas, tentu manfaat tersebut sudah cukup untuk menjadi keutamaan, kemuliaan, menjauhkan hati dari kelalaian dan menghapus semua kesalahan.

Meski zikir terbilang ibadah yang mudah, namun balasan dan keutamaannya tidak sama dengan amalan lain. Disebutkan dalam kitab Shahihain dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa membaca:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Tiada Tuhan yang berhak diibadahi dengan sebenarnya selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian, dan la Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sebanyak seratus kali dalam sehari, (bacaan ini) setara dengan memerdekakan sepuluh budak, seratus kebajikan ditulis untuknya, seratus keburukannya dihapus darinya, dan (bacaan ini) menjadi pelindung baginya dari (gangguan) setan pada hari itu hingga sore. Tidak ada seorang pun yang membawa amal yang lebih baik darinya selain orang yang mengamalkan (membaca zikir tersebut) lebih banyak darinya. “1

Jabir meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa membaca,

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
‘SUBHAANALLAAH WA BIHAMDIHI’
“(Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya), sebuah pohon kurma ditanamkan untuknya di surga.” (HR At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadis ini hasan shahih”)2

Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh, aku bertasbih kepada Allah beberapa kali lebih aku sukai daripada menginfakkan dinar di jalan Allah sejumlah ucapan tasbih tersebut.”

 Zikir adalah obat kerasnya hati 

Seseorang berkata kepada Hasan, “Wahai Abu Sa’id. Aku mengadukan kepadamu kerasnya hatiku.’ Hasan pun berkata, ‘Cairkan hatimu dengan zikir.”

Makhul berkata, “Berzikir menyebut Allah adalah obat, sementara itu menyebut-nyebut manusia adalah penyakit.”

Seseorang bertanya kepada Salman, “Apa amal yang paling utama?’ Ia menjawab, ‘Apa kau tidak membaca ayat Al Qur’an ini: Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ  

“Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 45)

Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwa Nabi bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dan orang yang tidak mengingat Rabbnya umpama orang hidup dan orang mati.” (HR Al-Bukhari).3

Abdullah bin Bisr meriwayatkan bahwa seseorang berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, amal kebaikan itu banyak sekali namun aku tidak mampu melaksanakan semuanya. Maka beritahukanlah sesuatu kepadaku yang engkau kehendaki untuk aku jadikan pegangan. Jangan menyebutkan terlalu banyak sehingga aku lupakan.” Beliau bersabda, “Senantiasa basahilah lisanmu dengan menyebut Allah.” (HR At-Tirmidzi).4

 Berzikir memperbanyak saksi 

Senantiasa berzikir akan memperbanyak saksi seorang hamba pada hari kiamat. Zikir akan menyibukkannya hingga ia tidak punya waktu membicarakan tutur kata batil seperti ghibah, adu domba, dan lainnya.5

Lisan sendiri terbagi menjadi dua. Lisan yang berzikir dan lisan yang lalai. Ketika pintu zikir dibuka untuk seseorang, pintu masuk menuju Allah dibuka untuknya. Ia pun dipersilahkan untuk membersihkan diri dan masuk menemui Allah. Ia pun mendapatkan apa yang ia inginkan di sisi-Nya. Karena, orang yang menemui Allah akan mendapatkan segala sesuatu. Namun, orang yang kehilangan Allah berarti kehilangan segalanya.

 Jenis-jenis zikir 

Zikir ada beberapa macam. Di antaranya adalah:

 Menyebut nama-nama dan sifat-sifat Allah, serta memuji dan menyanjung-Nya seperti dengan ucapan

سُبْحَانَ اللَّهِ (SUBHAANALLAH)

الْحَمْدُ لِلَّهِ (ALHAMDULILLAAH)

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (LAA ILAAHA ILLAALLAH)

 Mengabarkan tentang hukum nama-nama dan sifat-sifat Allah seperti bahwa Allah mendengar suara para hamba Nya dan melihat seluruh gerak-gerik mereka. Termasuk juga menyebut perintah dan larangan Allah seperti dengan berkata, “Allah memerintahkan ini dan itu, serta melarang ini dan itu.”

 Menyebut segala nikmat dan kebaikan Allah.

 Membaca Al-Qur’an.

Membaca Al-Qur’an adalah zikir yang terbaik karena Al Qur’an mengandung obat hati dari segala macam penyakit.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ قَدْ جَآءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِ ۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu sebagai penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta kasih sayang bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus 10: Ayat 57)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْـقُرْاٰ نِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ ۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَا رًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 82)

Penyakit hati sendiri terbagi menjadi dua; penyakit syubhat dan penyakit syahwat. Al-Qur’an adalah penawar keduanya. Alasannya Al-Qur’an mengandung bukti-bukti nyata dan dalil-dalil pasti untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Sehingga, segala penyakit syubhat yang merusak ilmu, konsep, daya nalar pun lenyap serta manusia bisa melihat segala sesuatu sebagaimana mestinya.

Siapa pun yang mempelajari Al-Qur’an hingga Al-Qur’an meresap di hatinya, ia pasti mampu melihat dan membedakan KEBENARAN dan KEBATILAN seperti ia membedakan siang dan malam.

Al-Qur’an juga menyembuhkan penyakit syahwat karena Al-Qur’an mengandung hikmah dan nasihat dan mendorong untuk zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang ingin mencintai Allah dan Rasul-Nya maka bacalah Al-Qur’an dengan mushaf.”6

Al-Qur’an juga mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Sahabat Khabab bin Art berkata kepada seseorang, “Dekatkan lah dirimu kepada Allah semampumu. Dan ketahuilah, engkau tidak akan mendekatkan diri pada-Nya dengan sesuatu yang lebih Dia sukai melebihi membaca kalam-Nya.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Siapa mencintai Al-Qur’an, ia dicintai Allah dan Rasul-Nya.”

Utsman bin Affan berkata, “Andai hati kalian bersih, niscaya hati kalian tidak akan pernah puas dari kalam Rabb kalian.”

Intinya, zikir kepada Allah adalah hal yang paling bermanfaat bagi seorang hamba.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)Dan, zikir terbaik adalah membaca Kitabullah.

 Istighfar 

Istighfar adalah memohon ampunan. Maghfirah sendiri bermakna perlindungan dari keburukan dosa disertai pengampunan. Istighfar ini banyak disebut di dalam Al-Qur’an. Kadang, Allah memerintahkan untuk beristighfar sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 وَا سْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 20)

Sesekali, Allah memuji orang-orang yang beristighfar, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِا لْاَ سْحَا رِ

“Dan yang memohon ampun di waktu sahur.” QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 17)

Kadang, Allah mengampuni hamba yang memohon ampun kepada-Nya, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَ مَنْ يَّعْمَلْ سُوْٓءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

“Dan barang siapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 110)

Istighfar sering kali disebut berdampingan dengan tobat. Saat keduanya disebut bersamaan, istighfar berarti memohon ampun dengan lisan. Adapun tobat adalah melepaskan diri dari dosa-dosa dengan hati dan seluruh anggota tubuh.

Hukum istighfar sama seperti doa. Jika berkehendak, Allah memperkenankan dan mengampuni orang yang memohon ampunan. Terlebih ketika permohonan ampunan diucapkan dari hati yang menyesali segala dosa, atau bertepatan dengan waktu-waktu mustajab seperti waktu sahur dan selepas shalat.

Diriwayatkan dari Luqman bahwa ia berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, biasakan lisanmu membaca, ‘Ya Allah, ampunilah aku,’ karena Allah memiliki saat-saat di mana kala itu la tidak menolak seorang pun yang meminta.””

Hasan berkata, “Banyak-banyaklah memohon ampunan di rumah, di atas meja makan, di jalan, di pasar, di majelis dan di mana saja kalian berada, karena kalian tidak tahu kapankah ampunan itu turun.”

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Al-Bukhari).7

Masih dari Abu Hurairah, ia mendengar Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh, seorang hamba melakukan dosa lalu mengucapkan, Ya Rabb, aku telah melakukan suatu dosa maka ampunilah aku,’ Rabbnya pun berfirman, Apa hamba-Ku tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni segala dosa dan menghukum karenanya? Aku telah mengampuni hamba-Ku.’

Selang berapa lama seperti yang Allah kehendaki, ia kembali melakukan dosa lalu mengucapkan, Ya Rabb, aku telah melakukan suatu dosa lagi maka ampunilah aku,’ Rabbnya pun berfirman, Apakah hamba-Ku tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni segala dosa dan menghukum karenanya? Aku telah mengampuni hamba-Ku.’

Selang berapa lama seperti yang Allah kehendaki, ia kembali melakukan dosa lalu mengucapkan, ‘Ya Rabb. Aku telah melakukan suatu dosa lagi maka ampunilah aku,’ Rabbnya pun berfirman, Apakah hamba-Ku tahu bahwa ia memiliki Rabb yang mengampuni segala dosa dan menghukum karenanya? Aku telah mengampuni hamba-Ku.’-sebanyak tiga kali lalu terserah ia melakukan apa yang ia kehendaki.”” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). 8

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Pada kali yang ketiga Allah berfirman, Aku telah mengampuni(nya). Silakan ia melakukan seperti yang ia kehendaki.”9

Artinya, selama ia masih berada dalam kondisi seperti itu; berbuat dosa lalu memohon ampunan. Secara lahir, yang dimaksud adalah istighfar TANPA terus-menerus melakukan dosa.

Aisyah berkata, “Beruntunglah orang yang mendapati banyak istighfar dalam lembaran catatan amalnya.”10

Intinya, obat dosa adalah istighfar. Qatadah berkata, “Al-Qur’an menunjukkan penyakit dan obat kalian. Penyakit kalian adalah dosa, dan obat kalian adalah istighfar.”

Ali bin Abi Thalib berkata, “Tidaklah Allah mengilhamkan istighfar kepada seorang hamba sementara Ia bermaksud menyiksanya.”

Qatadah berkata, “Al-Qur’an menunjukkan penyakit dan obat kalian. Penyakit kalian adalah dosa, dan obat kalian adalah istighfar.”

 Do’a 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ 

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.
(QS. Ghafir 40: Ayat 60)

Allah memerintahkan kita berdoa dan berjanji memperkenankan doa kita. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَا دَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَا خِرِيْنَ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.””
(QS. Ghafir 40: Ayat 60)

Mahasuci Allah Yang Maha-agung, Pemilik kemuliaan nan melimpah dan kemurahan tiada henti, yang menjadikan permohonan hamba akan segala kebutuhan sebagai ibadah kepada-Nya, memerintahkan hamba untuk memohon kepada Nya, mencelanya dengan bentuk celaan paling sempurna manakala tidak mau beribadah dan menganggapnya bersikap sombong kepada-Nya.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “Siapa tidak meminta kepada Allah, Allah marah kepadanya.”11 (HR At-Tirmidzi).12

Indah sekali bait-bait syair gubahan seorang pujangga berikut;

Jangan pernah meminta suatu keperluan pada manusia, mintalah kepada Zat yang pintu-pintu-Nya tiada terhalang. Allah akan marah jika engkau tidak memohon pada-Nya, sementara manusia marah ketika engkau minta kepadanya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ الْاَ رْضِ ۗ ءَاِلٰـهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ 

“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di Bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.”
(QS. An-Naml 27: Ayat 62)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad ﷺ ) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186)

Rasulullah ﷺ bersabda, “Do’a adalah ibadah. “Setelah itu beliau membaca, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (HR At-Tirmidzi).13

Do’a pasti dikabulkan berdasarkan keumuman ayat-ayat dan hadis-hadis di atas. Dengan catatan, jika syarat-syarat sah doa terpenuhi.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh, Allah Maha Pemalu, Mahamulia. Ketika seseorang mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, Dia malu menolak keduanya dengan tangan hampa dan rugi.” (HR At-Tirmidzi).14

Dalam hadis lain, beliau ﷺ bersabda, “Janganlah kalian lemah dalam berdoa, karena tak seorang pun yang akan binasa karena doa.” Hadis ini dishahihkan Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan Dhiya,15

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Tidaklah seorang Muslim memanjatkan suatu do’a yang tidak berisi dosa ataupun memutuskan tali kekeluargaan, melainkan Allah memberinya salah satu dari tiga hal karenanya; mempercepat terkabul do’anya, menyimpannya di akhirat untuknya, atau memalingkannya dari keburukan senilai dengannya.” (HR Ahmad, Al-Bazzar dan Abu Ya’la).16

Umar bin Khathab berkata, “Aku tidak memikirkan terkabulnya do’a, tetapi aku memikirkan do’a. Karena, siapa yang diberi ilham untuk berdoa, pengkabulannya menyertainya.”

 Adab Berdoa 

1. Memilih waktu-waktu mulia untuk berdoa seperti pada hari

Arafah, Ramadhan, hari Jum’at, dan waktu sahur.

2. Memanfaatkan kondisi-kondisi tertentu seperti turunnya hujan, ketika dua pasukan saling merengsek dalam perang di jalan Allah, dan saat sujud serta waktu antara azan dan iqamat

Rasulullah ﷺ bersabda, “Saat paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud. Maka banyak banyaklah berdo’a (saat sujud).” (HR Muslim).17

“Do’a antara azan dan iqamat tidak ditolak.” (HR At Tirmidzi dan ia menyatakan hasan).18

3. Mantap dan yakin dikabulkan.

Nabi ﷺ bersabda, Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan, Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki. Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki. Hendaklah ia meneguhkan permintaan, karena ia tidak dipaksa untuk berdo’a.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).19

4. Bersuci, menghadap kiblat, dan mengulang doa sebanyak tiga kali, seperti disebutkan dalam hadis riwayat Muslim.”20

5. Memulai dengan memuji Allah dengan menyebut nama nama, sifat-sifat, dan nikmat-nikmat-Nya, juga dengan membaca shalawat untuk Rasulullah ﷺ. Setelah itu baru kita menyampaikan keperluan, dan mengakhirinya pula dengan shalawat untuk Rasulullah ﷺ dan pujian untuk Allah.

6. Memakan makanan halal, tidak berdo’a yang berisi dosa, dan tidak pula memutuskan tali kekeluargaan.

7. Tidak sepatutnya terburu-buru meminta dikabulkan. Tidak pula mengatakan, “Saya sudah berdo’a, tapi tidak dikabulkan,” berdasarkan hadis, “Do’a seseorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak terburu-buru sambil mengatakan, Aku sudah berdo’a, tapi tidak dikabulkan.”” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). 21

Ibnu Baththal menjelaskan, makna hadis ini adalah yang bersangkutan merasa jemu lalu meninggalkan do’a sehingga ia seperti orang yang mengungkit-ungkit do’anya. Atau, seakan-akan ia yang membaca do’a dan ia pula yang menentukan dikabulkan atau tidak. Ia bertindak seolah olah Rabb Maha Mulia Yang tidak lemah untuk mengabul kan permohonan dan rahmat-Nya tidak berkurang karena banyak memberi.

Inilah salah satu adab do’a, yaitu senantiasa memohon tanpa berputus asa menantikan jawaban do’a. Hal ini mengandung penyerahan diri, tunduk, dan memperlihatkan rasa membutuhkan.

 Shalawat Kepada Nabi ﷺ 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menyampaikan shalawat kepadaku satu kali, Allah melimpahkan rahmat kepadanya sebanyak sepuluh kali.” (HR Muslim dan lainnya).22

Maksudnya adalah sepuluh kali rahmat, karena satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Sementara, shalawat kepada Nabi ﷺ merupakan salah satu kebaikan yang agung.

Ibnul Arabi mengatakan, “Jika ada yang mengatakan, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَنْ جَآءَ بِا لْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَا لِهَا ۚ 

‘Allah berfirman, “Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya,”(QS. Al-An’am 6: Ayat 160)

Lantas apa faedah hadis ini ?

Jawabannya adalah faedah paling agung dari hadis ini adalah Al-Qur’an menunjukkan siapa yang datang membawa amal baik, amalannya itu akan dilipat-gandakan sepuluh kali. Shalawat kepada Nabi ﷺ merupakan kebaikan. Sesuai petunjuk Al-Qur’an, shalawat dibalas sepuluh tingkatan di surga.

Untuk itu, Al-Qur’an mengabarkan bahwa Allah melimpahkan rahmat sebanyak sepuluh kali kepada orang yang membaca shalawat kepada Rasul-Nya. Jika Allah mengingat seorang hamba, hal ini jauh lebih baik daripada kebaikan yang dilipat gandakan. Begitulah, Allah membalas zikir (ingatnya) hamba kepada-Nya dengan zikir (ingatnya) Allah kepadanya. Allah juga membalas orang yang menyebut nabi-Nya sama seperti balasan orang yang berzikir kepada-Nya.

Adapun dalil tentang perintah untuk bersholawat kepada Rasulullah terdapat dalam Al Qur’an surat Al Ahzab ayat 56.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Artinya: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (Q.S Al- Ahzab : 56).

Sarana untuk dikabulkannya Do’a

Keutamaan sholawat Nabi yang kedua adalah terkabulnya do’a, dimana sholawat ini dianjurkan untuk dibaca terlebih dahulu sebelum bermunajat kepada Allah.

سمعَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ رجلًا يَدعو في صلاتِهِ لم يُمجِّدِ اللَّهَ تعالى ولم يُصلِّ علَى النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عجِلَ هذا ثمَّ دعاهُ فقالَ لَهُ أو لغيرِهِ إذا صلَّى أحدُكُم فليَبدَأ بتَمجيدِ ربِّهِ جلَّ وعزَّ والثَّناءِ علَيهِ ثمَّ يصلِّي علَى النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ يَدعو بَعدُ بما شاءَ

“Apabila salah seorang di antara kamu membaca shalawat, hendaklah dimulai dengan mengagungkan Allah Azza wa Jalla dan memuji-Nya. Setelah itu, bacalah shalawat kepada Nabi. Dan setelah itu, barulah berdoa dengan do’a yang dikehendaki.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

Al-Iraqi menuturkan, tidak hanya itu. Bahkan, Allah menambahkan catatan sepuluh kebaikan, menggugurkan sepuluh keburukan, dan mengangkat sepuluh derajat untuknya seperti disebutkan dalam sejumlah hadis.

1. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Siapa yang namaku disebut di dekatnya maka bacalah shalawat kepadaku. Siapa mendo’akan shalawat kepadaku satu kali, Allah melimpahkan rahmat kepadanya sebanyak sepuluh kali.”

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا رواه مسلم.

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i)

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan.” (HR An Nasa’i).

Disebutkan riwayat lain, “Siapa mendo’akan shalawat kepadaku satu kali, Allah melimpahkan rahmat kepadanya sebanyak sepuluh kali, menggugurkan sepuluh kesalahannya, dan mengangkat sepuluh derajat untuknya.”(HR Ahmad, An-Nasa`i, lafal hadis miliknya, dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya.23

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً صلَّى اللَّهُ عليهِ عشرَ صلَواتٍ ، وحُطَّت عنهُ عشرُ خطيئاتٍ ، ورُفِعَت لَهُ عشرُ درجاتٍ

“Barang siapa di antara umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, menghapuskan dari dirinya sepuluh keburukan, meninggikannya sebanyak sepuluh derajat, dan mengembalikan kepadanya sepuluh derajat pula’.”(HR Ahmad).

Sabda beliau ﷺ, “Siapa yang namaku disebut di dekatnya, maka bacalah shalawat kepadaku.” Lahiriah perintah ini menunjukkan shalawat wajib berdasarkan sabda beliau dalam hadis lain, “Orang bakhil adalah orang yang namaku disebut di dekatnya, lalu ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban), 24

2. “Sungguh, Allah memiliki malaikat-malaikat pengelana yang menyampaikan salam umatku kepadaku.” (HR Ahmad dan An-Nasa’i).25

3. “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sungguh, orang yang paling berhak (mendapatkan syafaatku) pada hari kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku.” (HR At Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya).26

Nabi. Rasulullah SAW bersabda: 

وعن ابن مسْعُودٍ أنَّ رسُول اللَّهِ ﷺ قَالَ: أَوْلى النَّاسِ بِي يوْمَ الْقِيامةِ أَكْثَرُهُم عَليَّ صَلاَةً رواه الترمذي

“Manusia yang paling berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku.” (HR Tirmidzi).

4. Dianjurkan banyak membaca shalawat kepada Rasulullah ﷺ pada hari Jum’at berdasarkan hadis Aus bin Aus. Ia berkata bahwa “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, ia wafat, sangkakala ditiup, dan seluruh makhluk mati. Maka, banyak-banyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian diperlihatkan kepadaku.’ Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ. Bagaimana shalawat kami diperlihatkan kepadamu, sementara engkau sudah hancur luluh?’ Beliqu menjawab, ‘Sungguh, Allah mengharamkan bumi memakan jasad para nabi.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya).27

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الجَعْفِي، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ، عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ الصَّنْعَانِيِّ، عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ الثَّقَفِيِّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: “من أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ قُبِضَ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ”. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ عَلَيْكَ صَلَاتُنَا وَقَدْ أرمتْ؟ -يَعْنِي: وَقَدْ بَلِيتَ -قَالَ: “إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Ali Al-Jufri, dari Abdur Rahman ibnu Yazid ibnu Jabir, dari Abul Asy’as As-San’ani, dari Aus ibnu Aus As-Saqafi radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. pernah bersabda: Termasuk hari yang mulia bagi kalian ialah hari Jum’at, karena Adam diciptakan pada hari Jum’at dan diwafatkan pada hari Jum’at pula. Tiupan sangkakala terjadi pada hari Jum’at, dan hari kiamat pun terjadi pada hari Jum’at. Maka perbanyaklah oleh kalian membaca shalawat untukku (pada hari Jum’at), karena sesungguhnya bacaan shalawat kalian untukku ditampakkan kepadaku. Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, begaimanakah shalawat kami ditampakkan kepadamu, sedangkan engkau telah menjadi tulang belulang yang hancur?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. menjawab: Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada tanah memakan jasad para Nabi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)

Lafal bacaan shalawat ini disebutkan hadis Abu Mas’ud Al-Anshari berikut, “Rasulullah ﷺ datang kepada kami saat kami berada di majelis Sa’ad bin Ubadah. Lalu Basyir bin Sa’ad berkata kepada beliau, Allah memerintahkan kami untuk membaca shalawat kepadamu wahai Rasulullah ﷺ. Lantas bagaimana caranya kami bershalawat kepadamu?’

Rasulullah ﷺ díam hingga kami berangan andai saja Basyir tidak bertanya kepada beliau. Setelah itu Rasulullah ﷺ menjawab, Bacalah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Ya Allah, limpahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad ﷺ dan keluarga Muhammad ﷺ, sebagaimana Engkau melimpahkan rahmat kepada keluarga Ibrahim. Berkahilah Muhammad ﷺ dan keluarga Muhammad ﷺ, sebagaimana Engkau memberkahi keluarga Ibrahim. Di antara seluruh alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha-agung.’

Adapun bacaan salam seperti yang sudah kalian ketahui.”” (HR Muslim).28

wallahu a’lam bish showab

Diriwayatkan oleh :

1. Al-Bukhari, Kitab Do’a-Do’a (XI/201), Muslim; Kitab Zikir dan Do’a (XVII/16). Lafal hadis ini milik Al-Bukhari

2. Shahih, diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Kitab Do’a-Do’a (IX/433). At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan gharib shahih.” Al-Haitsami berkata setelah menyatakan hadis ini bersumber dari Al-Bazzar (X/94), “Sanad hadis ini jayyid.” Dishahihkan Al-Hakim dan disetujui Adz-Dzahabi (1/501).

3. HR. Al-Bukhari; Kitab Do’a-Do’a (XI/208).

4. Shahih oleh At-Tirmidzi, Kitab Do’a-Do’a (IX/314). At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan gharib Al-Hakim dalam Kitab Do’a (1/495), ia menyatakan shahih dan disetujui Adz-Dzahabi, Lafal hadis ini bukan milik mereka.

5. Adu domba adalah menyampaikan kondisi seseorang kepada orang lain dengan maksud merusak hubungan, baik ia tahu maupun tidak. Ghibah adalah menyebut orang lain dengan sesuatu yang tidak ia sukai. Perbedaannya adalah adu domba diniatkan untuk merusak hubungan sementara ghibah tidak. Selain itu, ghibah dilakukan di belakang orang yang digunjing. Selebihnya, keduanya sama.

6. Hadis dhaif dan bahkan mungkar. Ibnu Adi berkata, “Tidak ada yang meriwayatkan hadis ini dari Syu’bah selain Hurr bin Malik. Hurr meriwayatkan sejumlah hadis yang tidak terlalu banyak dari Syu’bah dan lainnya. Dan, hadis dari Syu’bah dengan sanad seperti ini adalah hadis mungkar. Baca At-Tahdzib (11/222), biografi Hurr bin Malik. Adz-Dzahabi dalam Al-Mizan menuturkan, “Hurr bin Malik Abu Sahal Al-Anbari meriwayatkan hadis batil.” Adz-Dzahabi kemudian menyebutkan hadis yang dimaksud, lalu setelah itu berkata, “Mushaf baru dibuat sepeninggal Nabi (1/471). Al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentari ulasan Adz-Dzahabi ini dalam Al-Lisan, bahwa alasan tersebut dhaif. Yang benar, Hurr bin Malik tidak dikenali. (11/185). As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir memberi tanda dhaif untuk hadis ini. (VI/150).

7. Al-Bukhari; Kitab Do’a-Do’a (XI/101).

8. Al-Bukhari; Kitab Tauhid (XIII/466), lafal hadis ini miliknya, Muslim; Kitab Zikir dan Doa (XVII/75).

9. Muslim, Kitab Zikir dan Do’a (XVII/76).

10. Shahih, namun sanad hadis ini tidak berhenti sampai Aisyah (bukan hadis mauquf). Bahkan, Ibnu Majah mentakhrij hadis ini secara marfu’dalam Al-Adab (11/1254) dari hadis Abdullah bin Yasar dan Abu Nu’aim dalam Al-Hulyah secara marfu’ dari hadis Aisyah (X/395). Al-Bushairi menyebutkan dalam Az-Zawa id; sanad hadis ini shahih, dan para perawinya tsiqah. Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib menyatakan hadis ini bersumber dari Al-Baihaqi dan hadisnya juga marfu: la menyatakan sanad hadis ini shahih. (11/268). An-Nawawi menyatakan dalam Al-Adzkár, hadis ini diriwayatkan kepada kami dalam Sunan Ibnu Majah dengan sanad jayyid dari Abdullah bin Bisr. An-Nawawi kemudian menyebutkan hadis di atas (547). Sementara versi mauquf hadis ini disebutkan dalam riwayat Ahmad dalam Az-Zuhd. Sanadnya hanya sampai kepada Abu Darda. Demikian halnya yang tertera dalam Al-Qabadh (IV/282).

11. Allah marah kepadanya karena mungkin ia berputus asa atau sombong. Keduanya ini mengundang murka Allah.

12. Hasan, diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Kitab Doa-Doa (IX/313) dan lafal hadis ini miliknya, Ibnu Majah; Kitab Doa (II/1258), Al-Hakim; Kitab Do’a (1/491) dan ia menyatakan shahih dan disetujui Adz-Dzahabi. As-Suyuthi memberinya simbol hadis hasan dalam Al-Jami’ Ash Shaghir (III/12).

13. Shahih, diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Kitab Do’a-Do’a (IX/311) dan ia berkata, “Hadis ini hasan shahih. Juga oleh Hakim dalam Al-Mustadrak (1/491) dan ia berkata, “Sanad hadis ini shahih, namun tidak ditakhrij Al-Bukhari dan Muslim. Adz-Dzahabi menyetujui pernyataan ini. An-Nawawi menyatakan dalam Al-Adzkár (525), “Diriwayatkan kepada kami dengan sanad sanad shahih dalam Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa i, dan Ibnu Majah.” An-Nawawi kemudian menyebut hadis di atas.

14. Hasan, diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Kitab Doa-Doa (IX/544) dan lafal hadis ini miliknya, Abu Dawud dalam Kitab Doa (IV/359). Abu Dawud tidak memberikan komentar apapun terhadap hadis ini. Hadis serupa juga diriwayatkan Al-Hakim dalam Kitab Doa (1/497) dan ia menyatakan shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim. Adz-Dzahabi menyetujui pernyataan Al-Hakim ini.

15. Dhaif, diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/493). Ia berkata, “Sanad hadis ini shahih, hanya saja tidak ditakhrij Al-Bukhari dan Muslim.” Pernyataan Hakim ini dikomentari Adz Dzahabi, la menyatakan dalam Al-Lisän (IV/328), “Pernyataan shahih yang disampaikan Al Hakim ini terlalu mempermudah.”

16. Shahih, seperti dinyatakan Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib. Hadis ini diriwayatkan Ahmad, Al-Bazzar dan Abu Ya’la dengan sanad-sanad jayyid. Juga diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Kitab Do’a-Do’a (IX/923). la berkata, “Hadis ini hasan shahih gharib.”

17. Muslim; Kitab Shalat (IV/200).

18. Shahih, diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Kitab Shalat (1/624), setelah itu ia menyatakan, “Hadis ini hasan shahih. Berikutnya dalam Kitab Do’a-Do’a (X/53). Setelah itu ia berkata, “Hadis ini hasan.”Abu Dawud diam tidak memberikan komentar apapun terhadap hadis ini dalam kitab Shalat (11/224). Al-Iraqi menyatakan dalam Takhrij Al-Ihyd” (1/550), “Hadis ini diriwayatkan An-Nasa’i dalam Al-Youm wal Lailah dengan sanad jayyid.” Dishahihkan As-Suyuthi dalam Al Jami’ (111/541).

19. Al-Bukhari; Kitab Tauhid (XIII/448) dan lafal hadis ini miliknya; serta dalam Kitab Do’a-Do’a (XI/139), Muslim dalam Kitab Zikir dan Doa (XVII/7).

20. Muslim; Kitab Jihad (XII/152). Hadis ini merupakan potongan dari hadis panjang yang disampaikan Ibnu Mas’ud.

21. Al-Bukhari; Kitab Do’a-D’oa (XI/140), Muslim; Kitab Zikir dan Doa (XVII/51).

22. Muslim; Kitab Shalat (IV/128).

23. Shahih; diriwayatkan Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, hadis nomor 382 dari hadis Anas. An-Nawawi menyatakan dalam Al-Adzkár, “Sanad hadis ini jayyid.” Ibnu Hajar mengomentari pernyataan An-Nawawi ini dalam Nata ijul Afkär bahwa sanad hadis ini terputus. Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawa’id (X/163) mengaitkan bagian pertama hadis ini pada riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath dan berkata, “Para perawi hadis ini adalah perawi-perawi kitab Shahih Muslim meriwayatkan bagian akhir hadis ini dari hadis Abu Hurairah (IV/127) dalam kitab Shahih-nya.

24. Shahih; An-Nasai dalam Keutamaan Al-Qur’an (125), At-Tirmidzi; Kitab Do’a-Do’a (IX/531) dari hadis Ali bin Abi Thalib. At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini gharib shahih.” Ibnu Hibban, Al-Mawárid, hal: 594. Ahmad dalam Al-Musnad (1/201). Syaikh Abu Ali Ath-Thabari Syakir menyatakan, “Sanad hadis ini shahih,” hadis nomor 1736. Al-Hakim dalam kitab doa (1/549), ia menyatakan shahih dan disetujui Adz-Dzahabi.

25. Shahih; riwayat Ahmad (1/378). Syaikh Syakir menyatakan, “Sanad hadis ini shahih,” hadis nomor 3666. An-Nasai; Kitab Lupa (III/43). Ibnul Qayyim menyatakan dalam Jala`ul Ifhâm, hal: 23; sanad hadis ini shahih.

26. Hasan, diriwayatkan dalam kitab shalat witir (11/607). At-Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan gharib, Ibnu Hibban dalam Al-Mawdrid, hal: 594.

27. Shahih dalam Ibnu Majah; Kitab Jenazah (1/524). Abu Dawud; Kitab Shalat (11/370), Abu Dawud tidak memberi komentar apapun terhadap hadis ini. Ahmad dalam Al-Fathur Rabbani (VI/9), dishahihkan hakim dalam kitab shalat Jum’at (1/278) dan disetujui Adz-Dzahabi.

28. Muslim; Kitab Shalat (IV/123). 

Postingan Kategori Amalan lainnya


Amalan

Gizi-gizi yang dibutuhkan untuk menghidupkan Hati kita yang sedang “Mati”

Gizi-gizi yang dibutuhkan untuk menghidupkan Hati kita yang sedang “Mati” Perlu diketahui, ketaatan

baca selanjutnya…

Amalan

Sifat-sifat Gangguan Jin/Syaitan (2)

Sifat-sifat Gangguan Jin/Syaitan (2)   Inilah ciri-ciri orang yang dijadikan tumbal pesugihan, santet atau sihir

baca selanjutnya…

Amalan

Sifat-sifat Gangguan Jin/Syaitan (1)

Sifat-sifat Gangguan Jin/Syaitan (1) Di Zaman yang penuh Fitnah ini, dengan makin  banyaknya manusia yang

baca selanjutnya…

Amalan

Kemuliaan dan terasa manisnya Iman di kehidupan kita, dari kita berdzikir (Dzikrullah)

Kemuliaan dan Terasa manisnya Iman di Kehidupan Kita, dari Kita berdzikir (Dzikrullah) اُتْلُ مَآ

baca selanjutnya…

Previous
Next


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !! Sorry nih, Gak bisa di copas